Pinjaman Pendidikan, Solusi Bagi yang Kesulitan Biaya Kuliah

Jumat, 19 Februari 2021 - 23:00 WIB

Bisa menikmati bangku kuliah masih menjadi privilese bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Biayanya yang tinggi menjadi alasannya. Namun, belakangan muncul pinjaman pendidikan yang bisa menjadi solusinya.

Di Indonesia, kuliah di perguruan tinggi masih menjadi hal spesial. Itu tergambar dari Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia yang masih rendah. Pada 2019, persentase APK pendidikan tinggi di negeri kita baru 34,8 persen. 

Kesulitan biaya menjadi halangan utama kebanyakan orang dalam mengenyam pendidikan tinggi. Bukan hal aneh karena biaya pendidikan di sini mahal. Menurut HSBC Global Report 2017, Indonesia menempati peringkat ke-13 dalam daftar negara dengan biaya pendidikan tertinggi di dunia. 

Disebutkan, untuk menikmati pendidikan dari level Pendidikan Anak Usia Dini hingga perguruan tinggi, satu orang butuh biaya Rp269 juta. Nilai itu bahkan lebih mahal dari biaya pendidikan di negara maju seperti Prancis. Di sana biaya pendidikan dari tingkat anak hingga ke perguruan tinggi cuma sekitar Rp237 juta.

Fakta ini menjadi perhatian pemerintah. Pada 15 Maret 2018, Presiden Joko Widodo mengeluarkan wacana tentang pinjaman pendidikan. Ia mengharapkan pihak perbankan agar bertindak sebagai pemberi kredit bagi calon mahasiswa. Tujuannya agar APK pendidikan tinggi bisa meningkat.

Beruntung ajakan Presiden tampaknya disambut baik. Belakangan mulai muncul pinjaman pendidikan yang bisa menjadi solusi bagi calon mahasiswa dan mahasiswa yang terkendala biaya kuliah.

Apa Itu Pinjaman Pendidikan

Pinjaman pendidikan merupakan jenis pinjaman yang diberikan penyedia pinjaman untuk pembiayaan pendidikan. Nanti pinjaman tersebut dikembalikan oleh peminjam dengan skema dan jangka waktu tertentu. 

Biasanya pinjaman pendidikan hanya mencakup pembiayaan di perguruan tinggi. Peminjam pun harus memanfaatkannya untuk menempuh kuliah S1 atau di atasnya. Oleh karena itu, pencairan pinjaman sering langsung diberikan ke institusi pendidikan seperti untuk biaya kuliah per semester agar pemanfaatannya tepat.

Akan tetapi, pinjaman pendidikan bisa pula mencakup biaya hidup dan hal lain yang diperlukan untuk kegiatan kampus. Semua tergantung dari layanan yang diberikan pihak pemberi pinjaman.

Konsep pinjaman pendidikan memang masih terasa asing di Indonesia. Namun, lain halnya di luar negeri seperti di Amerika Serikat, Kanada, dan Finlandia. Popularitasnya sudah tinggi.  Bahkan, di negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, pemanfaatan kredit untuk pendidikan terbilang besar.

Siapa yang Menyediakan?

Sesuai harapan Presiden, pihak perbankan membuka pinjaman pendidikan. Namun, jumlahnya masih sangat terbatas. Lebih banyak bank yang mengarahkan calon peminjam ke Kredit Tanpa Agunan. Kendati demikian, sudah ada beberapa bank seperti BRI, BNI, dan BTN yang mengucurkannya. 

Pinjaman pendidikan dari bank dikenal memiliki kredibilitas dan keamanan yang tinggi karena diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu, bunga yang ditawarkan biasanya terbilang rendah, di kisaran 5% sampai 6,5% per tahun.

Limit dana yang bisa dipinjam terbilang tinggi. Nilainya bisa mencapai Rp200 juta, tergantung dari kebutuhan dan kecocokan syarat si peminjam. Sudah begitu, tenor pun terbilang lebih panjang.

Meski begitu, untuk mendapatkannya, calon peminjam harus bisa memenuhi persyaratan dan mempersiapkan waktu pengajuan yang cukup panjang. Biasanya bank hanya memperbolehkan orang tua atau mahasiswa yang sudah berpenghasilan untuk mengajukan pinjaman.

Akan tetapi, penyedia pinjaman pendidikan bukan cuma dari bank. Ada pula pihak lain yang memberikannya seperti institusi financial technology (fintech). Sistem yang dihadirkan biasanya jauh lebih ringkas. Tidak sedikit yang bisa mengajukan pinjaman secara online. 

Persyaratan juga lebih mudah. Terkadang ada mahasiswa yang bisa mengajukannya sendiri dengan orang tua yang bertindak sebagai wali. Selain itu, skema pengembalian bisa disesuaikan dengan kebutuhan. 

Kendati demikian, calon peminjam tetap harus hati-hati. Lihatlah kredibilitas pemberi pinjaman. Minimal mereka harus terdaftar di OJK. 

Selain itu, siap-siaplah membayar biaya pembayaran lebih besar. Bunga pinjaman pendidikan non-bank cenderung lebih tinggi. Paling sering ada di kisaran 12% hingga 30% per tahun. Perhatikan agar tidak salah pilih.

Jika tertarik untuk mengajukan pinjaman pendidikan, Sahabat LPS bisa mengajukannya ke institusi yang diinginkan. Persyaratan dan mekanismenya berbeda-beda. Namun, biasanya harus ada bukti bahwa Sahabat LPS akan kuliah atau sedang kuliah di sebuah perguruan tinggi tertentu. 

Share :

Equity Tower Lt 20-21, Sudirman Central Business District (SCBD) Lot 9 Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 1 2190 , Indonesia
E-mail: humas@lps.go.id - Phone: +62 21 515 1000 (hunting) - Fax: +62 21 5140 1500/1600